All about the latest information in today

Breaking

Kamis, 22 Februari 2018

Survei Median: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Turun, Tokoh Lain Naik

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia terpilih Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan pesaingnya dalam Pilpres lalu, Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan
Bitnews - Elektabilitas Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto merasakan penurunan.

Di sisi lain, elektabilitas tokoh pilihan mengalami peningkatan. Hal ini tergambar dari survei Median yang dilaksanakan pada 1-9 Februari 2018.

Responden yang memilih Jokowi andai pemilihan presiden dilangsungkan saat ini sebesar 35,0 persen. Angka ini turun dikomparasikan survei pada Oktober 2017, yaitu Jokowi dipilih 36,2 responden.

Sementara narasumber yang memilih Prabowo sebesar 21,2 persen. Angka ini pun turun dikomparasikan survei Oktober 2017 di mana elektabilitas Prabowo 36,2 persen.

"Pak Jokowi dan Prabowo mulai memudar elektabilitasnya," kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun ketika merilis hasil surveinya di Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat merilis hasil survei di Jakarta
Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat merilis hasil survei di Jakarta
Sementara itu, calon presiden pilihan yang menjadi penantang kedua tokoh merasakan peningkatan elektabilitas.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sekarang dipilih oleh 5,5 persen responden, naik dikomparasikan Oktober kemudian yang melulu 2,8 persen.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun elektabilitasnya naik tipis dari 4,4 persen ke 4,5 persen.

Komandan Satuan Tugas Bersama Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 dari Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pun mengalami penambahan elektabilitas dari semula di bawah 1 persen ke 3,3 persen.

"Suara Jokowi dan Prabowo pindah ke tokoh-tokoh alternatif," ujar Rico.

Rico menilai, data survei ini mengindikasikan bahwa pemilih mengharapkan tokoh pilihan di samping Jokowi dan Prabowo.

Berdasarkan keterangan dari dia, urusan ini menjadi peringatan, khususnya untuk Jokowi sebagai petahana.

"Ini telah lampu kuning untuk Jokowi, kalau tidak dipedulikan terus lama-lama dapat lampu merah," kata Rico.

Rico mengatakan, popularitas Jokowi sebagai petahana susah meningkat sebab kinerja pemerintah yang tidak memuaskan publik, terutama di bidang ekonomi.

Berdasarkan hasil survei, responden membubuhkan perhatian pada sekian banyak  masalah ekonomi, laksana kesenjangan ekonomi, harga keperluan pokok yang tinggi, sampai tarif listrik yang tinggi.

Populasi survei ini ialah seluruh penduduk negara Indonesia yang mempunyai hak pilih. Sampel berjumlah 1.000 responden, dengan margin of error tidak cukup lebih 3,1 persen pada tingkat keyakinan 95 persen.

Sampel dipilih secara acak dengan kiat multistage acak sampling.

Responden yang memilih Jokowi andai pemilihan presiden dilangsungkan saat ini sebesar 35,0 persen. Angka ini turun dikomparasikan survei pada Oktober 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar